- Advertisement -spot_img
28.1 C
Palembang
More
    HomeEducationMengenal Helicopter Parenting yang Terlihat Melindungi Nyatanya Menghancurkan

    Mengenal Helicopter Parenting yang Terlihat Melindungi Nyatanya Menghancurkan

    - Advertisement -spot_img

    Kabar kurang mengenakan datang dari hubungan Zayn Malik dan Gigi Hadid, pasangan mega bintang yang sudah memiliki seorang buah hati ini santer dikabarkan putus. Hubungan mereka berakhir bukan karena permasalahan di antara keduanya, tetapi karena campur tangan ibu Gigi Hadid, Yolanda Hadid. Zayn dan Gigi sangat menjaga privasi sang anak, sehingga tidak pernah menampakkan wajah anaknya di media sosial, tetapi ibu dari Gigi Hadid ini terlihat sering memposting wajah sang cucu.

    Diketahui bahwa Yolanda Hadid bukan hanya turut andil dalam karir Gigi saja, tetapi juga kehidupan pribadi Gigi. Yolanda sangat mengatur kehidupan anaknya sebagai supermodel bahkan di hari ulang tahun Gigi saja ia tidak mengizinkan Gigi makan kue demi menjaga diet. Gaya parenting yang diterapkan oleh Yolanda ini dikenal dengan sebutan helicopter parenting. Sahabat Makna sudah tahu tentang gaya parenting satu ini? Kalau belum simak informasi selengkapnya ya!

    Mengenal Helicopter Parenting

    Helicopter parenting adalah pola pengasuhan orang tua yang memiliki keterlibatan di dalam semua aspek kehidupan anaknya. Disebut sebagai helicopter karena orang tua berada di atas kepala anak atau seakan-akan mengontrol semua tindakan sang anak bahkan bersifat mengekang. Orang tua yang memberikan pola asuh semacam ini tidak akan membiarkan anaknya mengambil keputusan sendiri, semua keinganan dan keputusan ada di tangan orang tua. Ciri-ciri dari pola asuh ini bisa dilihat dari beberapa hal, seperti selalu ikut campur urusan anak misalnya ketika anak bertengkar dengan orang lain, orang tua akan memarahi anak yang bertengkar dengan anaknya.

    Orang tua yang menganut pola asuh seperti ini juga sangat suka membuntuti anak kemana pun anak pergi, ketika di usia balita orang tua mengikuti segala aktivitas anak karena khawatir anaknya akan terjatuh atau terluka. Orang tua seperti ini sering merasakan kekhawatiran yang berlebihan terhadap anaknya, seperti tidak mengizinkan anak untuk bermain di luar rumah atau selalu menyuapi anak karena tidak ingin anak makan sendiri. Orang tua semacam ini bahkan tidak segan-segan membuatkan pekerjaan rumah atau tugas sekolah anaknya karena tak ingin anaknya melakukan kesalahan, sehingga mendapatkan nilai yang tidak sempurna.

    Akibat Buruk Helicopter Parenting

    Image : Freepik.com

    Penerapan pola asuh helicopter parenting bisa menimbulkan dampak buruk terhadap kondisi perkembangan psikologis anak dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa. Ada beberapa dampak buruk yang bisa terjadi kepada anak yang diasuh dengan pengasuhan semacam ini, seperti:

    • Anak Memiliki Kepercayaan Diri Rendah

    Anak-anak yang diasuh dengan pola asuh ini akan tumbuh menjadi anak yang berkecil hati, tidak mau mengambil risiko, tidak memiliki inisiatif dan tentunya tidak percaya diri. Hal ini karena sedari kecil tidak dibiasakan untuk mengambil keputusan dan tindakan sendiri, sehingga tidak pernah merasakan kegagalan. Larangan dan kekangan yang diberikan orang tua kepada anak juga berkontribusi terbentuknya ketidakpercayaan diri.

    • Mudah Berbohong

    Kekangan dan larangan seiring berjalannya waktu dan anak tumbuh dewasa akan berusaha untuk dihindari oleh anak. Setiap orang pastilah menginginkan kehidupan yang bebas dan bisa mengambil keputusan terhadap dirinya sendiri. Oleh sebab itu, anak yang mendapatkan pola asuh ini akan sering berbohong kepada orang tua agar lolos dari kekangan.

    • Ketergantungan pada Orang Tua

    Kehidupan yang selalu diatur dan dikontrol oleh orang tua lama kelamaan akan membuat anak merasa ketergantungan dengan orang tuanya. Anak menjadi tidak bisa hidup mandiri karena tidak dapat menentukan pilihan dan tujuan dalam kehidupan akibat biasa ditentukan oleh orang tua.

    • Kecemasan yang Berlebihan

    Orang tua yang menganut pola asuh ini memiliki kecemasan terhadap anaknya, misalnya ketika anak bermain di luar akan sangat merasa cemas takut anaknya terjatuh atau terluka. Hal ini bisa menurun kepada anak, ketika orang tua sering merasakan kecemasan, anak-anak pun akan meniru dan merasakan kecemasan yang berlebihan pula. Jika kecemasan ini sudah sangat parah, anak bisa saja mengalami depresi.

    Menghindari Helicopter Parenting

    Helicopter parenting memang ada manfaatnya, tetapi hanya untuk orang tua saja yakni orang tua merasa kehidupannya bermakna, tetapi tidak ada manfaat untuk anak. Oleh sebab itu, sebagai orang tua hendaklah untuk menghindari pola asuh helicopter parenting ini dengan beberapa cara, seperti tidak membantu anak dalam hal-hal yang sebenarnya bisa dilatih agar mampu melakukan sendiri, misalnya memakai baju, menyiapkan peralatan sekolah, makan dan mandi. Orang tua juga jangan merasa cemas yang berlebihan, tetapi berusahalah menjadi pelatih bagi anak agar mampu menghadapi kondisi buruk yang terjadi di kehidupannya. Kemudian, biarkan anak-anak mengambil keputusan sendiri dan mengajarkan anak bertanggung jawab terhadap konsekuensi keputusan yang dibuatnya.

    Itulah Sahabat Makan mengenai helicopter parenting. Semoga jika Sahabat Makna menjadi orang tua kelak bisa memberikan pola asuh yang terbaik ya untuk anak-anak agar tumbuh menjadi anak yang sehat secara fisik dan mental. Sampai jumpa!

    - Advertisement -spot_img
    - Advertisement -spot_img
    Stay Connected
    16,221FollowersFollow
    Must Read
    Related News
    - Advertisement -spot_img

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here